Maudy Ayunda Jadi Moderator Diskusi Panel Tentang Pendidikan

Published: 13 February 2018
14 times
Maudy Ayunda Jadi Moderator Diskusi Panel Tentang Pendidikan Untuk pertama kalinya, Maudy Ayunda menjadi moderator dalam acara diskusi panel berjudul "Melangkah Maju dengan Teknologi dan Pendidikan" yang digelar Quipper Indonesia

Perusahaan teknologi pendidikan global terkemuka, Quipper, pada Senin (12/2) menggelar diskusi panel berjudul "Melangkah Maju dengan Teknologi dan Pendidikan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Diskusi panel ini melibatkan empat panelis, di antaranya Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom), Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Republik Indonesia - Drs. Gatot Pramono, M.PET; Co Founder dan Country Manager Quipper - Takuya Homma; CEO Bahaso - Tyovan Arie, dan Pakar Pendidikan - Itje Chodijah.

Salah satu hal yang menarik dari diskusi panel ini adalah keberadaan artis multitalenta, Maudy Ayunda di panggung bersama panelis-panelis yang inspiratif. Maudy hadir menjadi moderator diskusi yang membahas seputar tantangan Teknologi dan Pendidikan di Indonesia.

Pada pengalaman pertamanya menjadi moderator, Maudy Ayunda mengaku ada rasa deg-degan seperti melakukan sesuatu yang baru.

"Rasanya seperti melakukan sesuatu hal yang baru ya, ada deg-degannya. Gak lama kemudian lumayan nyaman karena ternyata sebenarnya itu seperti ngobrol aja," ujar Maudy Ayunda kepada Liputan6.com.



Maudy menjelaskan sebagai moderator dirinya bertugas untuk mengawal jalannya diskusi sesuai topik dan panduan pertanyaan. Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, Maudy mengungkapkan banyak pertanyaan yang secara spontan keluar dari mulutnya.

"Banyak pertanyaan yang dikasih di guideline, tapi sebenarnya banyak juga yang spontan muncul karena memang ingin tahu. Ini pengalaman yang menarik. Jadi, saya bisa ikut belajar juga," jelasnya

Maudy mengatakan bahwa penggunaan teknologi di dunia pendidikan sangat penting dilakukan jika ingin mengejar negara-negara lain yang sudah maju.

"Teknologi, menurut aku itu mempercepat, kita tidak lagi menunggu buku sampai di Papua, nunggu pengiriman. Kalau mereka punya smartphone, bisa baca buku itu. Kalau guru-guru sudah punya, Ipad atau gadget lain bisa jadi materi belajarnya. Teknologi sangat penting untuk mempercepat dan membuat efisien. Membangun budaya belajar yang lebih personal life dan mandiri. Dengan adanya teknologi, pelajar itu bisa lebih memilih role juga karena mereka punya pilihan, dimana kalau misalnya dapat gurunya yang gak oke, mereka punya kontrol ke teknologi untuk belajar sendiri," ujar Maudy.

Lebih lanjut, Maudy juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi juga perlu digawangi oleh orang tua, guru. Guru perlu membangkitkan rasa ingin belajar perlu karena tanpa rasa keinginan belajar mereka (para pelajar) tidak akan menggunakan teknologi buat belajar, mereka akan lebih milih untuk bermain social media.

"Mereka tidak akan belajar kalau budaya belajar dan rasa ingin tahunya tidak dibantu dibangun oleh orang tua dan guru. Jadi, ini memang benar bahwa teamwork (guru, orang tua, dan sekolah) yang dibilang itu penting, tidak bisa satu hal saja," ujar Maudy.

Melalui diskusi panel ini, Maudy menceritakan bahwa dirinya juga baru mengetahui bahwa ada program-program pemerintah dalam bentuk digitalisasi pendidikan seperti TV Edukasi dan Rumah Belajar oleh Kemendikbud.

Dari paparan Co Founder dan Country Manager Quipper, Takuya Homma teknologi dan pendidikan, Maudy juga belajar tentang perbedaan sistem pendidikan Indonesia dan Jepang. Serta perbedaan sistem belajar di kota dan daerah yang disampaikan oleh CEO Bahaso, Tyovan Arie.

Itje Chodijah, selaku pakar dan ahli pendidikan yang sudah malang melintang selama lebih dari 35 tahun mempercayai peran guru, orang tua dan sekolah tidak akan tergantikan karena pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi juga pembentukan karakter.

"Maka dari itu peran teknologi dimaksudkan sebagai alat untuk membantu proses pembelajaran, membuka akses dan meningkatkan kualitas," tuturnya.

Takuya Homma mengatakan bahwa pihaknya juga percaya penggunaan teknologi yang dibarengi dengan pendidikan berkualitas dapat diraih.

"Secara bersama-sama kita dapat mendorong pendidikan ke arah yang lebih baik, memberikan materi pendidikan berkualitas, menghubungkan guru dan siswa di seluruh Indonesia, berbagi pengetahuan, secara cepat dan tepat kepada orang yang membutuhkannya," tutup Takuya.

Liputan6

Gallery Foto

Menemukan tambatan hati dan bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius merupakan impian banyak orang. Hal yang sama juga dirasakan oleh pasangan Syahnaz Sadiqah dan Jeje Govinda. Tak lama lagi ...

Profil of the Month

Artis muda Prilly Latuconsina menanjak namanya dari sinetron GANTENG-GANTENG SERIGALA yang ia bintangi. Prilly lahir pada tanggal 15 Oktober 1996, di Tangerang dan memiliki perpaduan darah Ambon dan ...